Ulek atau Blender?


by Mellyani Hambali February 26, 2016

Baru-baru ini saya menjadi instruktur acara kursus singkat tentang memasak secara tradisional di salah satu perusahaan. Di kursus itu, ada salah satu peserta yang menanyakan kepada saya tentang kenapa untuk beberapa masakan, saya selalu menekankan untuk menggunakan ulekan, bukan diblender saja agar lebih praktis dan cepat. Saya teringat dengan pertanyaan ini sehingga saya menuliskannya di sini juga untuk pembaca yang belum tahu.

Nah, tentunya semua sudah familiar dengan blender. Setiap rumah tangga dengan dapur semi-modern biasanya sudah dilengkapi dengan blender. Blender ini dapat menghaluskan dalam jumlah lebih banyak dengan waktu lebih cepat. Belum lagi menghemat tenaga yang harus dikerahkan untuk mengulek.

Tetapi, sepraktis-praktisnya blender ini, tetap ada beberapa masakan yang bahannya tidak dapat diolah dengan cara diblender. Perkedel adalah salah satu contohnya.

Perkedel jagung, apabila jagungnya diblender, akan menyebabkan air yang terdapat dalam bulir jagung keluar semua, membuatnya jadi seperti adonan bubur.
Saat digoreng, perkedel jagung akan menjadi lembek dan tidak bisa berbentuk sempurna. Solusi yang umum saya lihat adalah dengan menambahkan lebih banyak tepung terigu. Hal ini memang tidak salah, tapi terlalu banyak tepung akan membuat perkedel jagung menjadi seperti roti, bukannya perkedel lagi.

Begitu juga dengan kentang untuk membuat mashed potato atau kentang tumbuk. Memang sangat menggoda untuk menggunakan blender untuk menghaluskan kentang rebus yang banyak itu bukan? Tetapi apabila kentang tersebut diblender, putaran cepat dari pisau blender akan menghancurkan molekul pati kentang, menghasilkan adonan lengket seperti campuran lem kanji! Siapa yang ingin kentang tumbuknya kenyal, bukan?

Gambar yang saya tampilkan di dalam artikel ini merupakan gambar cobek dan ulekan yang saya miliki sejak dua puluh tahun lalu. Cobek dan ulekan ini sudah setia sekali menemani saya dalam proses masak-memasak di dapur Nyonya Melly Shop dan tidak tergantikan oleh blender.

Bisa terlihat kalau saya memilih cobek yang terbuat dari batu kali dan ulekan yang terbuat dari akar bambu yang sudah tua, nama lainnya adalah rebung. Cobek ini sudah lumayan berumur, tapi masih sangat bagus untuk mengulek bumbu. Jadi kalau sempat memesan masakan dari Dapur Nyonya Melly, bisa jadi masakan tersebut bumbunya sudah melalui rute cobek ini terlebih dahulu.

Sekarang ini di Jakarta sudah agak sulit menemukan cobek yang "genuine" terbuat dari batu kali. Banyak saya lihat di pasaran, cobek yang katanya dibuat dari batu kali, padahal terbuat dari semen. Tidak lama setelah dipakai, cobek tersebut akan mulai rontok, dan rontokan semennya tentu akan mengotori bumbu yang diulek di atasnya. Jadi, hati-hati memilih cobek.




Mellyani Hambali
Mellyani Hambali

Author




Also in News

Layanan Delivery Deliveree Nyonya Melly
Layanan Delivery Deliveree Nyonya Melly

by Mellyani Hambali December 28, 2016

Read More

Ritual Larung Saji Masyarakat Jawa
Ritual Larung Saji Masyarakat Jawa

by Mellyani Hambali October 05, 2016

Read More

Ritual Siraman Calon Pengantin Jawa
Ritual Siraman Calon Pengantin Jawa

by Mellyani Hambali August 31, 2016

Read More

Sale

Unavailable

Sold Out