Ritual Larung Saji Masyarakat Jawa


by Mellyani Hambali October 05, 2016

larung_saji_1

Masyarakat Jawa memiliki berbagai cara dalam mengungkapkan rasa syukur mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa. Salah satunya adalah dengan menggelar upacara atau ritual larung saji atau larung sesaji. Ritual ini merupakan bentuk sedekah alam yang dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rejeki terutama dalam bentuk hasil bumi bagi masyarakat. Selain itu, upacara ini juga dimaksudkan sebagai bentuk permohonan rejeki dan keselamatan.

Upacara larung saji ini dapat ditemukan di berbagai daerah di pulau Jawa terutama di daerah yang berdekatan dengan pantai, misalnya daerah Blitar, Pacitan, Banyuwangi dan Madura. Waktu pelaksanaannya sendiri berbeda-beda, tergantung dari kepercayaan masyarakat sekitar. Sebagai contoh, di daerah Banyuwangi, Jawa Timur, ritual larung saji (masyarakat Banyuwangi menyebutnya sebagai upacara petik laut) dilakukan pada hari rabu terakhir pada bulan Sapar. Masyarakat mempercayai bahwa hari tersebut merupakan hari turunnya wabah penyakit dan bencana, sehingga diharapkan ritual petik laut yang dilakukan akan menghalau bencana yang ada.

Di beberapa daerah lain, upacara larung saji ini lebih sering dilaksanakan pada tanggal Satu Suro yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram tahun baru Hijriah. Pelaksanaan ritual ini menjadi salah satu dari sekian banyak ritual yang dilakukan masyarakat Jawa dalam rangka memperingati datangnya tahun baru Hijriah.

Inti dari upacara larung saji ini adalah melarungkan atau menghanyutkan sesaji yang terbuat dari bahan-bahan hasil bumi masyarakat sekitar. Pada umumnya, sesaji yang akan dilarungkan berupa Tumpeng Agung atau tumpeng berukuran besar setinggi 1 hingga 1,5 meter yang terbuat dari beras putih atau beras merah. Tumpeng ini kemudian dihias dan dilengkapi dengan berbagai jenis buah dan sayuran serta hasil bumi masyarakat sekitar seperti pepaya, pisang, kacang panjang, ketela dan berbagai hasil bumi lainnya. Sesaji tersebut diatur dan ditata diatas anyaman bambu yang nantinya akan dilarungkan ke laut. Selain sesaji dalam bentuk makanan dan hasil bumi, sering juga disertakan kelengkapan ritual lainnya berupa kepala sapi.

larung_saji_2

Ritual ini dimulai dengan melakukan selamatan yang dipimpin oleh para sesepuh desa. Setelah itu, sesaji tersebut akan diarak dari tempat sesaji menuju ke pinggir laut. Sesampainya dipinggir laut, sesaji tersebut akan diserahkan kepada sekelompok nelayan yang bertugas melarungkan sesaji tersebut. Sesaji ini diletakkan diatas perahu, kemudian dibawa hingga ke tengah laut sebelum akhirnya dilepaskan dan dibawa oleh ombak menuju samudra luas.

Proses pelepasan sesaji ini pada umumnya tidak dilakukan sendiri. Masyarakat sekitar biasanya turut menyertai pelepasan sesaji di tengah laut dengan menggunakan perahu nelayan yang telah dihias seindah mungkin, yang membuat prosesi ini menjadi lebih meriah.

Saat ini ritual larung saji bukan hanya menjadi sebuah tradisi belaka, melainkan juga telah menjadi daya tarik wisata tersendiri. Setiap tahunnya, prosesi larung saji mampu menarik ratusan wisatawan baik yang berasal dari daerah sekitar hingga wisatawan yang berasal dari luar negeri sehingga tidak heran bila pemerintah daerah setempat seperti di daerah Blitar, menjadikan ritual larung saji ini sebagai salah satu agenda tahunan yang akan dihadiri oleh Bupati dan segenap pimpinan daerah.




Mellyani Hambali
Mellyani Hambali

Author




Also in News

Layanan Delivery Deliveree Nyonya Melly
Layanan Delivery Deliveree Nyonya Melly

by Mellyani Hambali December 28, 2016

Read More

Ritual Siraman Calon Pengantin Jawa
Ritual Siraman Calon Pengantin Jawa

by Mellyani Hambali August 31, 2016

Read More

Rawon, Sup Hitam dari Jawa Timur
Rawon, Sup Hitam dari Jawa Timur

by Mellyani Hambali August 24, 2016

Read More

Sale

Unavailable

Sold Out